Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Desember 2012

LUKA LAMA (lagi)



Geletik tawa hingga memecahkan sudut ruang yang sepi sebelumnya,
menenggelamkanku akan kejadian – kejadian pembunuhan yang ku lakukan
Aku membunuh rasa yang sempurna, dengan balasan tak bertuan

Aku mencoba menghalangi mentari yang ia pancarkan
Dengan awan-awan gelap disertai petir yang mengelegar beserta debit air sepanjang hari menyakiti pori - pori
Semusim ini kedinginannya nampak nyata
Berbagai alasan ia datang dengan paksaan yang tak pernah ku inginkan (lagi)
Perasaannya tak ku rasakan lagi seperti kemarin dan sekarang
Lalu aku mencoba tegak, berusaha mengingat keraguannya terdahulu
Semuanya kembali dengan perlakuan yang sama

Kemudian aku menghancurkan hadiah yang ia inginkan
Menyakitkan bukan?


Jika kamu kembali saat ini, bukan waktu yang tepat untuk hanya menginginkan penyesalan itu berubah menjadi lebih baik. Tanpa perlu kamu lakukan itu, perasaan ku sudah lama tak seperti dulu. Hanya saja aku tak ingin lebih lama membuat penyesalanmu kembali terulang. Kesempatan kamu sudah habis, aku tak menginginkan masalah – masalah baru dikemudiannya.

Minggu, 18 November 2012

KAU

Kau itulah Aku

Secarik  kalimat menata akan segala arti guna
Seraut wajah kecutmu adalah penghambat guna hidup
Biarkanlah rautmu seindah alasanmu bertahan hidup
Jika terus saja seperti itu, rasa takutmu bertambah
Meremehkan waktu saja petaka bagi siapa dirimu sebenarnya
Tetaplah berdiam dengan bebanmu untuk  menghindari  masalah
Biarkan dia pergi dengan sendirinya, atau kau tanggung semampumu, jangan membuatmu bodoh sepanjang hari
Betapa keras kau mencoba mengakhiri lukamu dengan kebodohanmu yang itu itu saja
Tidakkah kau lelah mencobanya berulang kali, namun nyatanya kau tak mampu ?
Kau bukan lagi anak kecil, yang berlari sekuat kau mampu ketika dimarahi ibumu saat itu. Lalu kau kembali karena takut
Hadapilah jangan berlari lagi
Salah mu juga dengan hiruk piluk yang kau buat sendiri
Jangan cemaskan, esok akan indah seperti harapanmu sejauh ini
Apakah kau masih memiliki harapan?
Kembangkanlah harapan mu satu per satu yang tersedia
Nantikanlah dirimu yang baru bukan yang terlihat sekarang
Waktu mu tak ada yang tahu, tak ada yang bisa menggantikan masa kecil
Sekali – kali boleh saja kau lakukan itu, melihat kearah belakang agar kau tak lupa diri
Perasaanmu tak sekacau tadi, sebelum kau menulis semua keluhanmu
Jika seseorang mengerti, pasti akan tahu siapa “KAU”


Rabu, 14 November 2012

Sesosok Insan


Sesosok pejalan yang gelisah tanpa menghentikan langkahnya terus menerus melebarkan langkahnya itu
Menyongsong setiap peristiwa yang terjadi disekitarnya
Dilihatnya ia penuh dengan keabuan tentang hidup yang tak pernah terselesaikan
Kebahagiaannya seakan punah, membias!
Geramnya tenggelam bersama rasa ibanya
Namun ia seakan sembunyi dibalik senyum ketir
Menahan duka
Dipunggungnya terlihat beban yang terpikul sendirian bagai mengepalai keluarganya. Tapi TIDAK!
Mungkin dia hanya ingin pergi sejenak dalam fiktifnya dunia
Menurutnya dunia hanya lah lingkaran yang tak berawal juga tak berakhir
Tak ada awal dan akhir yang indah
Tak ada ruang yang dibutuhkan untuk berjalan tanpa kekangan dahaga
Dia kagum pada semesta alam tunjukan kekecewaan yang tak perpihak padanya
Rupa pelangi melingkar setengah tanda kesedihan baru untuknya
Berwarna namun bukan dirinya sekarang
Hujan lah yang menyamarkan tetesan asin di matanya
Disaat hujan lah ia mulai berhenti berjalan
Berteduh namun terguyur nan menggigil lekat
Ia seakan meyatimi dirinya sendiri
Jauh dari pandangannya seseorang telah memperhatikannya
Payung ini cukup besar untuk berlindung bersama
Namun rasa berani itu ternyata kurang besar
Terbiarkannya hujan itu mengering, dengan genangan dimana – mana
Ia masih saja seperti itu, mengkaku pucat
Upayanya tak berdaya, ingatannya hilang ditengah jalanan bisu
Sosok itu serupa pilar yang tak dapat disangga lagi penguatnya
Dikejauhan ini lah, aku memperhatikannya tanpa diketahui sesosoknya.

Jumat, 09 November 2012

Sembilanbelas


Hujan jelang pagi itu mengetuk kelopak mataku
Menanyakan kejelasan semalam, tentang keinginanku akan kepastian
Aku tak pernah suka keadaan ini
Kemana akan ku teruskan dan dimana akan ku hentikan
Seharusnya tak pernah ada

"Mencari kebahagiaan seperti hujan dengan pelangi "
Letih tersirat, mauku yang tak pernah sejalan
Ini memaksa ku akan suatu pilihan
Pilihan tersulit hingga nafsu terhenti
Inginku ubah niatku dan mengurung segala ego
Sekali ini aku hanya ingin bersama kedalam kerinduan yang ingin ku akui
Dengan fasih inginku sampaikan kalimat yang biasa orang lontarkan hanya padamu tapi pasti saja dengan cara yang berbeda
Namun selalu kau tahan dengan cara mu yang kaku
Disinilah aku mulai berhenti mengakui itu
Dengan ….
Hitungan hari sejauh dan sedekat kita membuat cerita tentang cinta
Awal yang indah memang.
Harus
Berakhir dan begitu sajaaaaaa………..
Cepat dan terlalu cepat
Mungkin disinilah kita akan tau, dan mengerti akan perasaan seseorang tanpa perlu mengatakannya.
Cobalah untuk peka dan mudah memahami seseorang.
“Maaf dan terimakasih untuk semuanya J


"Bahagialah dengan atau tanpa AKU"

Selasa, 06 November 2012

Seperti Angin Inilah AKU


Diresapan asa aku menghela, membiarkan diriku selara melayang
Hembusan angin kian menyebar, memberikan bau kebebasan
Kini aku berbalik, merelakan tulang punggungku mengeras pilu
aku terpaku tak berhayal, kosong dan hampa
pikiranku lari bersama angin yang tak rupa, membiarkannya tak tertuju kemanapun
hujatan tak bertuan menepi batin
terkuak dengan dahaga nadi
hempasan tangan keras ingin terbalaskan
mungkin saat amarah tak tertahan
tertanam jerit yang ku enyam sendirian
sederhana tapi…menggores luka selamanya
“jika aku terlelap lama, ingin sekali seperti angin yang sedang ku nikmati saat ini… Menari indah tanpa beban, mengajak yang lemah pergi bersama.
Tapi bila aku masih terbangun sampai detik ini, ijinkan ku tetap dapat mendekap erat orang yang menyayangiku, utuh tanpa keterpaksaan yang tak pernah ku inginkan.”

CEPAT


Ketika kedatangannya membuat ku yakin
Ketika perkenalan singkat aku berharap
Hanya itu lah yang aku rasakan saat hati tergerak
Mungkin sulit ku mengakuinya, hanya dimata inilah semua tau akan jawabannya
Aku menghindar awalnya, namun ku coba untuk terus mengetahui perasaan yang sulit ku baca sendiri
Setelah terjalani dan lebih cepat
Aku ingin hanya untuk berlama
Tanpa merasakan kejenuhan sebelumnya
Tanpa merasakan sakit sebelumnya
Sebelumnya yang hidup dengan bayangan seseorang
Dengannya aku bisa lupa, lupa pahitnya obat ketika sakit ku rasakan
Semuanya sirna cepat
Namun rahasia yang sekarang ku pendam adalah………………….
Keraguan yang timbul karenanya, dia tidak sempurna..aku pun begitu, aku tau!
Tapi mengapa tidak kita biarkan semuannya menjadi sempurna?
Mengapa?
Aku sungguh mencobanya
Sungguh!
Aku memilihnya bukan mencobanya
Apakah pilihan ku salah? BERI TAU AKU!!!

Rabu, 24 Oktober 2012

S E N D I R I

Sepekan kemarin terusik pertentangan - pertentanganmu 
Kini pun segenap salah tercurahkan untukku
Sekedar sebab kecil, sasaranmu hanyalah aku
Bisa saja seluruh keluhmu tersampaikan agar luntur sementara

Namun ketika berbalik tak sedikitpun berada 
Aku meluap seorang diri, jatuh tanpa ada penjaga
Penyanggaku roboh tak tertahan
Lebur dalam asa
Tertelan pahit ludah sendiri 
Aku menaunginya hanya menaunginya... tanpa menyelesaikannya
Berat terpikul sendiri seolah batin tercekam
Sewaktu - waktu aku pun mengenyamnya HANYA S E N D I R I A N !

Realita

Menyapu kepingan luka
Menahan terjangan pertahannanku
Tali ini seakan putus, tapi ia merekatkannya lagi
Aku heran, seakan ia lupa
Rasanya seperti itu, nyatanya ia kembali
Tapi bukan yang ku kenal
Hanya orang baru dia ini
Rubahan cara ku lakukan, namun ku sembunyikan
Ia pun begitu....
Bahagia ia kembali, bukan ku mengharap dia sekarang
Sungguh angkuh, muak ku terbuai tuturnya 
Realitanya, habis harapan kosong ini
Menyayangkan ribuan kesempatan baru

30 November 2010

Senin, 16 April 2012

BERHENTI!!

Aku berseri ketika hanya mendengar namanya saja
walau aku tak mengerti arti semuanya
Kepada nama itu lah aku menginginkan esok yang biru dan pelangi yang indah sehabis hujan

Aku tak pernah selesai untuk melukis dirinya dalam ucapku
Hanya rasa lelahku yang teramat lama telah mengikis ku perlahan
Entah berapa lama aku menyimpannya, ketiha hanya harap tanpa henti, menyuruh ku untuk b e r h e n t i atau  m e n e r u s k a n n y a
Berapa banyak tulisan yang akan ku goreskan lagi?
Berapa hari, bulan dan tahun lagi?
Aku menunggu waktu itu, waktu yang akan menghentikan gulungan dihati

Ambillah dan renggutlah hati ini tidak untuk siapapun, tapi biarlah hati ini hanya untuknya yang pertama dan terakhir
Buatlah aku tak pernah salah untuk menunggunya sampai detik ku menulis puisi untuk kesekian kalinya

 aku tak akan membiarkan tintaku habis ketika merindukannya
dan tak akan menuliskan kata yang sama untuk dibacakan kembali 
Aku berharap disela tanganku ini dibalas dengan tangannya juga sehingga menjadi satu yang erat 
Mungkin suatu saat......Aku senang walau angannya saja yang jadi bagian hidupku saat ini.